Tampilkan postingan dengan label tips and tricks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips and tricks. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2012

Let’s Start (Y)Our Essays Early!

Menulis esai untuk aplikasi master memang tidak mudah, setidaknya bagi saya. Berbagai macam buku penuilsan esai saya baca, mulai dari buku panduan penulisan akademis, esai kreatif, sampai dengan kopi buku contoh-contoh esai para mahasiswa kelas Master Bisnis Harvard University. Beruntung saya mendapat banyak bahan dari Ms. Wina, pengajar TOEFL ketika saya sedang pre-departure training di PPSDM, BPPK.

Namun banyaknya bahan justru ternyata membuat saya lebih bingung lagi. Mana yang harus saya jadikan acuan. Saya pun mencoba googling beberapa bahan. Mungkin sekitar 2 atau 3 unduhan dalam bentuk .pdf saya dapatkan, tapi karena kemalasan saya, malah tidak terbaca he he he.


Tapi ada satu artikel yang menarik perhatian saya. Ditemukan secara tidak sengaja ketika membaca situs The New York Times, yang saya jadikan bookmark di browser saya. Ditulis dengan tajuk “Juniors: In the Quiet of Summer, Start Your Essays.” Ditulis oleh Alan Gelb, penulis buku “Conquering the college Admission Essay in 10 Steps.” Sekalipun judulnya untuk aplikasi para mahasiswa strata 1, tapi tipsnya cukup umum kok. Berikut saya ketik ulang beberapa bagian pentingnya.

Here are half dozen suggestions to keep in mind:

Clear your head! Distractions like TV, texting, video games and the Internet surfing can seriously unhibit inspiration. Once your school term is over, schedule some time away from those electronic diversions and find a park bench, rooftop, library carrel or some other quiet place where you can hear your thoughts bubbling up from deep down in your consciousness.

Ask yourself exploratory questions! In looking for an essay topic, an excellent way to begin is by asking questions that can turn up some juicy conflict. Some examples: What has been the hardest thing I have ever had to face? If I had to quickly reply my life, which two or three moments would jump out ahead of all others? Which experiences have pulled me out of my comfort zone? When I have ever felt pure rage? Write down your answer to these questions (trying to devise questions of our own as well) and, as time passes, note the answers you keep coming back. There may be some fertile ground for an essay in those responses.

Write it down! While we’re on the subject of writing things down, let’s make this the summer that you carry around a pad and pencil or some kind of wireless device to record your thoughts. Take it from this writer: if you don’t write it down, you’re bound to lose it.

Familiarize yourself with the narrative form. Everyone loves a good story – particularly the overburdened college admissions counselor who has to read hundreds of student essays, too many of which view this assignment as an opening for self-promotion. It is far better to think of the college admissions essay as your chance to tell a good story. Stories are narratives, and narratives have formal elements, like a specific time frame, a point of view and a certain degree of conflict. Read some good stories this summer – not just sample essays – and be conscious of their narrative techniques. Where do they start? H ow do they end ? what is the central conflict? How it resolved?

Enjoy yourself! There warm, feel-good months make it easier to relax, and approaching the college admission essay with less anxiety is a good thing. In fact, it would be extremely beneficial to view this assignment not as an onerous task but as a creative act. In that vein, you’ll want to commit yourself to work, accept the idea that your essay will evolve through a series of drafts and allow yourself to take some pleasure in the process. Who knows? You may even discover the joy of writing.

Own your essay! Make an ironclad commitment that is going to be YOUR essay. No one should be permitted to write it for you – not a parent, not a sibling, not a hired gun. This essay needs a reflect your authentic voice, and perhaps making such a commitment is one of those things you’ll actually want to affirm, in writing, this summer.   

Jika dilihat dari waktunya, untuk batas akhir pendaftaran Strata 2 untuk kelas Fall di Amerika Serikat bagi mahasiswa international berkisar pada bulan Desember tahun sebelumnya hingga bulan Februari-an. Pengalaman untuk kelas Fall 2012 ini, untuk Harvard Kennedy School, pendaftaran ditutup per 1 Desember 2011, sementara untuk School of International and Public Affairs Columbia University ditutup berkisar Januari hingga Februari (tergantung programnya).

Cukup lama memang jika dilihat dari akan dimulainya kelas pada Agustus 2012. Tapi untuk ke Amerika, mahasiswa International memerlukan I-20 atau DS-2019 untuk pengajuan Visa dan proses ini memakan waktu cukup lama. Untuk negara lain, bisa lebih fleksibel. ISS Erasmus University of Rotterdam Belanda bahkan masih menerima pendaftaran hingga 1 Juli untuk kelas yang dimulai 3 Oktober. Bagaimanapun juga, memulai lebih awal insya Allah memberikan hasil lebih baik. Apalagi kalau esainya kemudian banyak di-review. Pengalaman saya, bahkan sampai esai sudah dikirim pun, saya menemukan satu atau dua kesalahan he he he.

Selamat menulis. Good luck on your essay!

picture courtesy of http://www.123rf.com/photo_5745086_pretty-teenage-girl-writing-in-journal-in-park.html

Jumat, 20 Mei 2011

Becoming Wealthy is A Matter of Managing Your Money Properly

Begitulah kata pepatah. Lalu bagaimana dengan tataran praktisnya? Berikut tulisan hasil dari kelas #AkbarAFC bersama Mas Aidil Akbar (@AidilAkbar), Mbak Lisa (@LaPetiteLisa), dan Mas Doni (@twindoni) di Akademi Berbagi Jakarta, 19 Mei 2011. Bertempat di Kantor IARFC Indonesia, Jalan Senopati 74, kelas yang direncanakan hanya berjalan 2 jam (pukul 7-9 malam), molor menjadi 3 jam karena 30-an peserta asyik berdiskusi dengan para pengajarnya.

Konsep perencanaan keuangan kali ini lebih cenderung membahas konsep investasi. Sebelum berinvestasi, ada beberapa prasyarat dalam kondisi keuangan seseorang. Beberapa prasyarat tersebut adalah:

1. Bebas dari hutang konsumtif. Yang dimaksud dengan hutang konsumtif, adalah hutang yang berasal dari pemenuhan kebutuhan yang masih tergolong sekunder atau bahkan tersier. Produk hutangnya bisa beragam dan melihat pada kondisi masing-masing. Misal: kredit cicilan iPad, jika menunjang pekerjaan tidak menjadi hutang konsumtif, sementara jika hanya digunakan untuk “gaya”, maka menjadi hutang konsumtif.

2. Cash flow yang positif. Kondisi pada saat penghasilan melebihi tingkat pengeluaran bulanan (surplus).  Jika pengeluaran lebih besar, perlu penyesuaian dengan menaikan (atau mencari sumber baru) penghasilan. Harus yang halal tentunya!

3. Telah terpenuhinya dana darurat, yaitu dana yang bersifat sangat likuid dan dapat diakses untuk kebutuhan sewaktu-waktu. Besarnya bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan banyaknya tanggungan keluarga. Bagi yang belum menikah, idealnya dana darurat minimal 3 kali nilai penghasilan (atau bisa pula 3 kali pengeluaran bulanan—batas minimal!). Sementara bagi kepala keluarga dengan 2 tanggungan, 1 istri dan 1 anak, maka besarnya bisa 6 sampai 9 kali nilai penghasilan. Berhubungan dana darurat harus bersifat sangat likuid, dana ini dianjurkan disimpan dalam bentuk tabungan dan sedikit proporsi logam mulia.

4. Proteksi (Asuransi). Auransi yang direkomendasikan ada 2, yaitu asuransi jiwa murni dan asuransi kesehatan. Bagi yang tidak memiliki tanggungan (belum memiliki keluarga atau tidak ada anggota keluarga/orang tua/saudara yang bergantung secara materi), cukup memiliki asuransi kesehatan. Dianjurkan untuk membeli premi asuransi kesehatan dengan pertangunggan yang sesuai dengan kebutuhan kita, sehingga ketika ada klaim tidak perlu ‘nombok’.

Berikut ini beberapa pertimbangan untuk menentukan kelas premi asuransi: kondisi historis penyakit orang tua, kondisi historis kesehatan pribadi, risiko kesehatan dari pekerjaan, rumah sakit terdekat dengan tempat tinggal (apakah termasuk dalam jaringan asuransi?), serta harga kamar pada rumah sakit tersebut (untuk menentukan kebutuhan pertanggungan).

Pada bahasan asuransi ini, cukup banyak pertanyaan mengenai produk asuransi plus investasi (yang popular dengan istilah unit link). Terlebih beberapa peserta sudah “terjebak” masuk ke dalam unit link. Secara singkat, produk unit link ini merupakan perpaduan antara asuransi dan investasi dengan proporsi tertentu. Kekurangan unit link ini antara lain: adanya biaya akuisisi serta minimnya tingkat return karena tidak fokus pada investasi dan pengelolaan investasinya kurang transparan. Sebenarnya tidak ada yang salah secara mutlak dari unit link. Hanya saja, produk ini tidak tersampaikan secara jelas dan komprehensif. Belum lagi, agen asuransi yang menawarkan unit link lebih melihat pada kemampuan kliennya untuk membayar, bukan pada kebutuhannya.

Konon katanya Mas Aidil Akbar, produk ini sebenarnya termasuk produk advance dan kurang cocok untuk masyarakat umum. Bagaimana mengetes apakah kita termasuk masyarakat umum atau bukan? Cukup jawab pertanyaan berikut: “Apa anda termasuk kelompok Eka Tjipta atau klan Bakrie?” Jika jawabannya “Bukan”, maka anda tidak perlu unit link he he he…

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur ikut unit link? Jika baru berjalan 2-4 bulan, silahkan langsung menutup. Anggap nilai yang sudah dikeluarkan sebagai proyek gagal atau proyek rugi. Tapi jika sudah berjalan bertahun-tahun, perlu konsultasi dengan perencana keuangan tersertifikasi. Perlu dilihat polis, skema, dan banyak faktor lain sehingga bisa dicari waktu yang tepat untuk menutup unit link, sehingga nilai kerugiannya minimum.

Setelah seluruh 4 prasyarat di atas terpenuhi, maka konsep perencanaan keuangan mulai masuk pada tahap Investasi. Secara teoritis zaman kuliah dulu (if I’m not mistaken), investasi sering diartikan sebagai kegiatan untuk menunda konsumsi saat ini untuk konsumsi di masa yang akan datang. *text book abis!* Dalam konsep dan tataran praktis perencaan keuangan, investasi dimaksudkan dengan menaruh sebagian penghasilan pada asset/produk tertentu dengan harapan nilainya akan berkembang melebihi nilai inflasi.
Investasi perlu dibagi menurut jangka waktunya, yaitu jangka pendek (kurang dari 3 tahun), jangka menengah (3- 5 tahun), dan jangka panjang (lebih dari 5 tahun). Pemilihan produk investasi juga perlu disesuaikan dengan jangka waktunya.

Untuk jangka pendek, produk investasi yang ideal adalah deposito, obligasi ritel, Reksadana Pasar Uang (RDPU).
Jangka menengah: Logam Mulia, RD Pendapatan Tetap, RD Campuran.
Jangka Panjang: RD Saham, Saham, Properti, dan benda koleksi (lukisan, barang antik, batu mulia atau berlian).

Jika dilihat dari produk-produk yang disarankan di atas, reksadana merupakan pilihan yang cukup ideal bagi keuangan masyarakat secara umum. Mengapa reksadana? Berikut kelebihan reksadana:

1. Dana diperlukan tidak terlalu besar. Dibandingkan dengan investasi pada logam mulia atau saham, reksadana termasuk produk investasi yang terjangkau. Pada logam mulia, dana awal yang diperlukan dalam sekali investasi mencapai Rp1,8 jutaan (untuk Dinar—4,25 gram emas) atau Rp2 jutaan (untuk emas Antam 5 gram). Pada saham, perlu dana lebih besar lagi (yang terkecil mencapai Rp5 juta). Sementara pada reksadana, dana awal yang diperlukan cukup Rp500 ribu sampai Rp1 juta, dengan pembelian tambahan pada kisaran Rp100 ribu sampai Rp500 ribuan.

2. Diversifikasi. Sesuai dengan asas umum investasi “don’t put your eggs into one basket!”, reksadana telah memenuhi asas tersebut. Kita tidak perlu bersusah payah membentuk portofolio sendiri, karena manajer investasi sudah mengaturnya pada reksadana yang kita beli unit penyertaannya.

3. Kemudahan investasi. Pembelian unit penyertaan RD bisa dilakukan di bank-bank agen penjual. Yang saya tahu, Bank Mandiri dan Bank Commonwealth memiliki list ‘supermarket’ reksadana, sehingga nasabah bisa memilih berbagai jenis RD yang ada. Enaknya lagi, di kedua bank tersebut, bisa juga dilakukan installment plan (skema Cost Averaging), yaitu pembelian unit  reksadana dengan sistem autodebet secara bulanan dari rekening tabungan, sehingga kita tidak perlu repot-repot membeli reksadana. Nilai autodebetnya pun bisa dimulai dari nilai Rp100 ribu saja.

4.Return menarik. Coba cek www.infovesta.com untuk melihat kinerja reksadana yang ada. Untuk rata-rata RDPU dan RDPT, nilai return-nya setara dengan (atau sedikit kurang-lebih dari) nilai inflasi secara umum. Sementara untuk RD campuran dan RD saham, bisa di atas nilai inflasi. Tentunya dengan sifat high risk-high return ya.

5. Jenis RD bisa disesuaikan dengan jangka waktu investasi, seperti yang telah dijabarkan pada beberapa paragraph sebelum ini.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai reksadana bisa mengunduh ebook “Berinvestasi pada Reksadana” dari Mbak Lisa di www.lisasoemarto.com atau membaca buku “Wisata ke Dunia Reksadana” dari Bapak Eko Pratomo.

Namun, apa yang terpenting dari perencanaan keuangan? Goals atau tujuan keuangan yang ingin dicapai. Apakah pemenuhan biaya pendidikan, rencana pembelian rumah, atau dana pensiun? Dari goals atau tujuan tersbut lah baru kemudian dipilih investasi yang sesuai.

Selamat berinvestasi!