Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Stuned Journey 3.0: Maastricht School of Management 101




Suasana pagi hari di Maastricht School of Management (MSM) masih sangat sepi ketika saya masuk ke area lobby. Papan pengumuman dengan tanda panah penunjuk arah menjadi panduan untuk peserta kursus singkat. Executive Programme e-Government 3rd Floor.

Tampak tumpukan papan nama dan booklet panduan di ujung meja yang menyerupai huruf U. Peserta yang mulai berdatangan satu persatu mengambil papan nama masing-masing. Total peserta e-government short course terdiri dari 15 peserta yang berasal dari Indonesia, Irak, dan Yordania. Tiga orang Indonesia dan saya duduk berdampingan satu sama lain dalam satu lajur. Birds of a feather flock together.

Joris H.T. Stadhouders, Assistant Professor of Management Information Systems, membuka secara resmi e-government short course yang akan berjalan selama 3 minggu ke depan. Perkenalan tentang budaya Belanda dan pengalaman kerja dipaparkan Joris secara singkat. Dia meminta kami mencari teman bukan satu negara untuk berkenalan dan kemudian saling memperkenalkannya ke seluruh peserta di kelas. 

Nina dan saya di Gemeente Maastricht
Nina, peserta dari Kurdistan, menjadi rekan saya untuk sesi perkenalan ini. Dia berprofesi sebagai pengajar di Technical College of Informatics, Sulaimani Polytechnic University. “I thought you were Lorde,” ketika saya berjabat tangan dengannya. Penampilan Nina yang sangat casual, berambut pirang, gadget modern, memiliki tato di lengan, dan bahasa Inggris dengan aksen yang fasih hasil pendidikan di Inggris meruntuhkan stereotype media tentang perempuan di Irak. Dari dia saya mendapat penjelasan jika Kurdistan adalah bagian otonom khusus Irak dan Erbil, ibu kota Kurdistan, merupakan kota yang sangat modern dengan berbagai macam pertokoan mewah. Dengan antusias, Nina juga menjelaskan potensi wireless Body Area Network, teknologi yang memungkinkan kita mengimplan chip ke dalam tubuh dan menggunakannya sebagai pengakses teknologi. (please correct me if I am wrong interpreting her explanation!)
  
Joris, yang sudah bergabung bersama MSM sejak tahun 1990-an, menjelaskan jika MSM merupakan salah satu sekolah bisnis terbaik di Belanda dan sudah berdiri sejak tahun 1950-an. Selain executive programme berupa kursus singkat seperti yang kami ikuti, MSM juga memiliki program perkuliahan MBA, Master in Management, MSc in Engineering, juga program doktoral termasuk DBA. Program MBA MSM konon pernah menjadi peringkat 1 dalam sebuah survei sekolah bisnis di Belanda. Mahasiswa MSM sendiri datang dari berbagai latar belakang profesi dan telah menghasilkan lebih dari 20 ribu alumni yang tersebar di 120 negara. 
Sesi perkenalan pagi hari juga menjelaskan mengenai asuransi kesehatan selama program berjalan dan diikuti dengan rehat. Asuransi kesehatan hanya bisa digunakan dengan sistem rujukan pada dokter tertentu dan dengan perjanjian terlebih dahulu. Jika kita datang pada dokter bukan tertunjuk dan/atau tanpa perjanjian terjadwal, maka biaya kesehatan harus dibayar sendiri. Dalam obrolan ringan ketika rehat, Joris membicarakan pengalamannya ke Indonesia untuk riset bersama dengan Universitas Trisaksi. Dia juga menunjukan satu lembar kertas surat dengan salah satu hotel di Anyer yang pernah dikunjunginya.  

Dorus menerangkan letak Maastricht
Dorus Evekink, salah satu Program Manager di MSM, lalu  memberikan presentasi tentang Belanda dan kebudayaannya. Lebih kurang mirip dengan kelas akulturasi di Erasmus Huis. Beberapa fakta menarik tentang Belanda yang dipaparkan Dorus antara lain:
- Dataran tertinggi di Belanda, Vaals' Hill, hanya 322,5 meter di atas permukaan air laut (dpal) dan tempat favorit warga Maastricht untuk "mendaki" adalah Sint Pietersburg yang hanya 160-an meter dpal. That’s not even a hill!
- Di tahun 2014, menurut data Statistics Netherlands (CBS) populasi Belanda mencapai 16,9 juta dan terdapat lebih dari 18 juta sepeda. Sebanyak 750 ribu sepeda dilaporkan dicuri setiap tahunnya.
- Related to the ICT, 94% of the Dutch age 12-75 has access to a desktop and laptop, with 81% of them uses internet for banking, 95% for email, and 30% search for a job.

- blog terkait kelas akulturasi di Erasmus Huis dapat dibaca di Seluk Beluk Pendaftaran Beasiswa Stuned: Pengalaman -

Sesi pengenalan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke perpustakaan dan fasilitas teknologi informasi. Dalam perjalanan dari kelas ke perpustakaan, kami berkenalan singkat dengan Professor Wim Naudé, Dean dari MSM, yang mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta dan menghimbau semua peserta untuk menikmati fasilitas di MSM. Perpustakaan MSM berukuran cukup mini dan memiliki lebih kurang 10 meja baca bersama---setiap meja bisa diduduki 4-6 orang. Salah satu meja di samping jendela dengan pemandangan taman menjadi spot paling menarik di perpustakaan itu. Sementara itu, buku-buku referensi tersusun rapi di beberapa lajur rak.

Ruang Laboratorium Komputer MSM
Fasilitas teknologi informasi yang berdampingan dengan perpustakaan menjadi tempat orientasi berikutnya. Di laboratorium komputer ini, kami diperkenalkan dengan sistem IT di Maastricht. Dengan perpustakaan yang mini dan buku referensi terbatas, jurnal elektronik rupanya menjadi sumber referensi utama untuk civitas MSM. Jurnal langganan yang terdaftar amat sangat representatif, tidak kalah dengan Columbia Universities Library Catalog. Setiap peserta e-government short coursemendapatkan ID masing-masing dan dapat digunakan selama 6 bulan (meski dalam broadcast email disebutkan bisa diakses selama 1 tahun).  

“Download as many journal as you want while you’re here for your class or for your work later. Take advantage of the facility,” saran salah satu fasilitator IT MSM.

Sesi orientasi hari pertama di MSM berakhir pada sore hari. Selepas menyimpan tas di kamar, saya menyempatkan diri main-main ke Lidl, salah satu grocery store, sekitar 10 menit berjalan kaki dari Aparthotel Randwyck. Tampak sedang ada sale coklat di sana, tetapi kemudian saya ingat jika tas belanja reusable tertinggal di kamar. Sempat terpikir untuk mengambil tas dan kembali ke Lidl, tetapi toko tersebut tutup pukul 6 sore (kecuali hari Kamis, tutup pukul 8 malam). Batal lah saya berbelanja hari itu.

(to be continued)

Senin, 22 Agustus 2016

Stuned Journey 2.0: Mengenal Maastricht dan sekilas Maastricht Treaty



Ketika saya mengirim aplikasi untuk mengikuti  e-government short course di Maastricht School of Management (MSM), saya sama sekali tidak mengacuhkan di mana letak Maastricht di peta Belanda. Pertimbangan utama saat itu adalah materi kursus singkat yang menarik dan kemungkinan akan bermanfaatnya kursus tersebut untuk portofolio kerja saya. Setelah saya mendapatkan beasiswa Stuned, barulah saya mulai mencari tahu di mana MSM berada dan seluk beluk kota Maastricht selengkapnya.

- blog terkait pengalaman mengirim aplikasi untuk shortcourse dan beasiswa Stuned dapat dibaca di Seluk Beluk Pendaftaran Beasiswa Stuned: Pengalaman -

Kota Maastricht ternyata ada di ujung tenggara Belanda, berbatasan langsung dengan Jerman dan Belgia, dan merupakan ibu kota dari provinsi Limburg. Nama Maastricht sendiri berakar pada kata Maas, yang berarti sungai dalam bahasa Belanda. Kota kecil ini hanya berukuran 60 kilometer persegi dan dihuni sekitar 120 ribu penduduk. Menurut beberapa orang lokal, Maastricht merupakan salah satu kota pelajar di Belanda, sehingga banyak pula mahasiswa pendatang baik dari kota lain di Belanda dan Uni Eropa, maupun yang berasal dari negara lain diluar Eropa.

Setelah menempuh lebih dari 200 kilometer perjalanan dengan kereta dari Amsterdam, saya tiba di Stasiun Maastricht Randwyck. Sebuah stasiun mungil yang hanya memiliki dua lajur rel. Aparthotel Randwyck, yang menjadi domisili saya selama 3 minggu di Belanda, berada di seberang stasiun kereta ini. Sementara MSM dan beberapa fakultas Maastricht University berada tepat disamping Aparthotel Randwyck. Everything seems close and convenient in this country! :)

Petugas di lobby Aparthotel Randwyck kemudian memberikan sebuah bundel berisikan buku dan alat tulis serta satu bungkus paket “makan siang” berisikan buah-buahan, waffle, yoghurt, dan minuman ringan. Saya menempati kamar di lantai 3 dengan pemandangan ke arah taman. Kamar yang disediakan cukup luas dengan fasilitas tempat tidur double size, heater, lemari es, televisi, meja belajar, dan kamar mandi dalam. Mesin cuci, pengering, dan setrika ada di lantai basement. Sekali mencuci menggunakan satu koin khusus dikenakan biaya €6, jauh lebih mahal dari satu kali cuci dan pengeringan di Manhattan yang hanya dikenakan US$1.75-2.50 saja. Karena masih agak jetlag dan kelelahan pascajalan kaki di Amsterdam, saya tidak sempat jalan-jalan di hari pertama saya tiba di Maastricht.

- blog seputar jalan-jalan di Amsterdam dapat dibaca di Stuned Journey 1.0: Stopping by Amsterdam -

Minggu pagi, saya menyempatkan lari di seputaran apartemen. Dalam ‘pelarian’ ini saya kemudian mendapati kalau di atas stasiun kereta Maastricht Randwyck ada sebuah doner kebab halal, Musti Broodje. Tempat ini kemudian menjadi langganan saya selama 3 minggu di Maastricht. Satu kebab dengan french fries hanya dibandrol €4.5-€5 tergantung pada wrap-nya, apakah flatbread (mereka menyebutnya dürüm) atau bun seperti burger yang dibelah dan diisi daging dan sayuran. Yang enak dari kebab di doner ini adalah sayuran yang bisa customized, jadi bisa minta pickle dan jalapeno sepuasnya. It's nice, isn't it?

Pagi itu pula, seluruh peserta e-government short course diajak berjalan-jalan di seputaran Maastricht. Dengan dipandu seorang guide, kami mengawali perjalanan di Helpoort atau dalam bahasa Inggris berarti Hell’s Gate. Helpoort merupakan sebuah kompleks dinding kastil, gerbang, dan bangunan sisa abad pertengahan. Bisschopsmolen menjadi persinggahan kami yang kedua. Bisschopsmolen adalah sebuah kafe dengan nuansa klasik. Turbin air tua di depan kafe menambah suasana kota tua selama kami menikmati brunch di sana. Menu wajib di Bisschopsmolen adalah vlaai, sejenis American Pie dengan bermacam-macam filling-blueberry, strawberry, atau krim. Kopi dan berbagai jenis teh menjadi pendamping yang pas untuk menikmati vlaai. Joris, Assistant Professor of Management Information Systems, yang ikut jalan-jalan pagi itu menanyakan pendapat kami tentang rasa makanan di sana.

“Lekker,” jawab saya.

Dia tersenyum.

Pemandu wisata kami kemudian menerka, "you are Indonesian, aren't you?"

Saya mengangguk.

"Do you use (the word) 'lekker' in Indonesia?" tanya dia lagi.

Kami pun berdiskusi singkat tentang bebagai persamaan bahasa Indonesia dan bahasa Belanda yang ada. Seorang peserta kursus dari Irak menanyakan mengapa ada banyak persamaan bahasa antara Indonesia dan Belanda. Saya menjawab karena kolonialisasi, sementara Joris menjawab, “commerce in the old centuries.” Awkward hehehe.

Jalan-jalan hari itu dilanjutkan ke gereja Basilica of Our Lady, atau warga setempat menyebutnya Onze Lieve Vrouw "Sterre der Zee" Basiliek. Selepas menikmati syahdunya nuansa gereja yang diterangi lilin-lilin, perjalanan kami dilanjutkan ke gereja St. John, atau Janserk, yang merupakan salah satu landmark popular kota Maastricht di area Market Square. Dibedakan dengan menara warna merah bata yang menjulang tinggi, gereja bergaya gothic ini adalah sebuah bangunan peninggalan abad ke-15 yang masih terawat dengan baik. Tepat disebelah gereja St. John, terdapat pula Sint Servaasbasiliek atau Basilica of Saint Servatius.

Ohya, kami juga sempat melewati jembatan yang berada di atas sungai Meuse, atau Maas dalam bahasa Belanda, ikon kota Maastricht. Dari jembatan ini, terlihat bangunan Gouvernement. Sekilas info, Gouvernement adalah tempat bersejarah di mana Maastricht Treaty ditandatangani pada tahun 1982 dan menjadi cikal bakal Euro. Bagi pemerhati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Maastricht Treaty ini dikenal karena kebijakannya yang mengharuskan setiap negara anggota Euro untuk menjaga “sound fiscal policies, with debt limited to 60% of GDP and annual deficits no greater than 3% of GDP.” Kebijakan terkait defisit anggaran dan rasio utang inilah yang diadaptasi oleh Indonesia dalam Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Jalan-jalan yang edukatif, bukan?!

Perjalanan bersama para peserta e-government short course hari itu diakhiri di Market Square. Kami pulang masing-masing ke apartemen. Saya dan peserta dari Indonesia mampir sebentar ke Albert Heijn untuk membeli beberapa makanan pokok seperti roti, selai, dan buah-buahan.



(to be continued)

Selasa, 22 Maret 2016

Seluk Beluk Pendaftaran Beasiswa Stuned: Pengalaman



Sudah lebih dari lima teman bertanya kepada saya tentang proses aplikasi beasiswa Stuned untuk kursus singkat (short course) yang saya ambil pada bulan Oktober 2015 lalu. Jadi saya pikir akan lebih bermanfaat jika dituliskan dalam blog supaya bisa terdokumentasikan lebih baik dan bisa dibaca lebih banyak orang. Berikut pengalamannya.

Beasiswa Studerend in Nederland (Stuned) merupakan beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk warga negara Indonesia yang terdiri dari beasiswa untuk studi master, tailor made, dan kursus singkat. Beasiswa ini dikelola oleh Nuffic Neso Indonesia. Pengalaman yang akan saya bagi di blog ini hanya untuk proses aplikasi beasiswa kursus singkat—karena untuk beasiswa master dan tailor made belum berpengalaman. Beasiswa ke Belanda juga ada yang melalui skema Netherlands Fellowship Programmes (NFP), namun NFP ini terbuka untuk pelamar non-warga negara Indonesia dan dikelola oleh Dutch Ministry of Foreign Affairs. Saya pernah juga melamar beasiswa kursus singkat melalui NFP namun masih belum berhasil mendapatkan dana. Untuk program NFP, teman-teman bisa membaca penjelasan lebih lengkap di  pranala (link) berikut ini. 

Kembali ke Stuned!

Proses beasiswa Stuned ini kebalikan dari proses aplikasi beasiswa kuliah S2 yang pernah saya dapatkan sebelumnya. Jika dalam proses beasiswa S2 saya mendapatkan pendanaan terlebih dahulu, kemudian mencari sekolah dengan program yang saya inginkan, maka dalam proses beasiswa Stuned ini berlaku sebaliknya. Saya mencari program yang saya minati dan melamar ke kampusnya, setelah mendapatkan Letter of Acceptance, barulah kemudian saya mengisi aplikasi untuk meminta pendanaan dari Stuned.

Proses pencarian program kursus singkat dilakukan melalui situs www.studyfinder.nl sekitar pertengahan Desember 2014. Awal mulanya saya tertarik untuk mengirimkan aplikasi untuk kursus singkat terkait perubahan iklim/climate change dari Wangeningen UR. Tapi setelah menimbang ulang, meskipun materi ini menjadi minat saya dan juga menjadi salah satu fokus saya ketika mengambil kuliah S2, namun untuk keterkaitan dengan pekerjaan sehari-hari agak kurang relevan, jadilah saya mencari-cari program lain. 

Program e-government dari Maastricht School of Management (MSM) kemudian menjadi pilihan paling ideal. Kebetulan saya tertarik dengan topik e-participation dan kaitannya dengan transparansi anggaran.

Proses aplikasi untuk MSM relatif mudah dan dilakukan daring (online). Persyaratannya relatif standar terkait pengalaman kerja, sementara kemampuan bahasa cukup ‘ditunjukan’ dengan skor TOEFL iBT sebesar minimal 80 atau ITP minimal sebesar 550. Formulir daring berisikan pertanyaan terkait biodata dan pengalaman kerja. Di samping itu, pelamar diminta untuk mengunggah Resume dan satu esai lebih kurang dua halaman terkait dengan topik e-government. Untung saya pernah mengambil mata kuliah e-Government and Digital Diplomacy dari Alexis Wichowski ketika di SIPA dulu dan menulis salah satu tugas kuliah terkait dengan e-government dan penganggaran. Tugas baheula itu saya perbarui dan ditambahkan dengan beberapa opini baru terutama terkait dengan proses transparansi penganggaran di Indonesia. Aplikasi dikirimkan sekitar pertengahan Januari 2015.

Pada tanggal 27 Januari, sekitar dua minggu setelah pengiriman aplikasi, kabar gembira berupa Letter of Accepatance dari MSM datang. Saya diterima untuk turut serta dalam kursus singkat di bulan Oktober 2015. MSM menyarankan untuk mengirimkan aplikasi beasiswa NFP dan Stuned lengkap dengan pranalanya.

Proses aplikasi Stuned ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Aplikasi beasiswa Stuned dilakukan dengan mengirimkan formulir pendaftaran dengan beberapa lampiran yang meliputi:
1. Letter of Acceptance dari kampus tempat kursus singkat akan diadakan
2. Sertifikat TOEFL iBT/IELTS (untuk yang pernah kuliah di luar negeri tidak lebih dari dua tahun dari kepulangan diperbolehkan untuk meninggalkan persyaratan ini)
3. CV (dengan format Stuned)
4. Salinan SK untuk PNS atau kontrak kerja untuk non-PNS
5. Ijazah dan transkrip yang sudah dilegalisasi
6. Salinan KTP atau paspor
7. Foto berwarna terbaru ukuran 3x4 (ditempelkan di formulir)

Dalam formulir juga terdapat beberapa pertanyaan seperti deskripsi pekerjaan, relevansi topik kursus singkat dengan pekerjaan, manfaat kursus singkat untuk karir ke depan, dan lain-lain. Selain itu, terdapat pula satu halaman khusus untuk diisi kantor atau pemberi kerja. Untuk PNS, yang menandatangani Statement by the Employer ini minimal oleh eselon dua--setara Direktur. Bagian inilah yang saya anggap 'susah' dari bagian-bagian gampang lain yang saya sebutkan sebelumnya. Meminta tanda tangan Direktur berarti harus siap menjelaskan untuk apa tanda tangan tersebut, apa program Stuned, dan lainnya. Setelah 10-15 menit berdiskusi bernegosiasi memohon untuk mendapat tanda tangan, akhirnya restu berupa tanda tangan Direktur didapatkan.

Formulir yang telah diisi beserta seluruh lampiran dokumen yang disyaratkan dikirim ke Kantor Nuffic Neso Indonesia di Menara Jamsostek. Saya mengirimkan via JNE per tanggal 17 Februari 2015. Pada saat itu disebutkan kalau 1 Maret 2015 merupakan batas akhir pendaftaran term 1 beasiswa Stuned--term 2 saat itu ditutup 1 September. Tapi per 1 Maret diumumkan melalui twitter Nuffic Neso Indonesia bahwa pendaftaran diundur hingga 1 April 2015.

Setelah melalui banyak berdoa, akhirnya per 8 Mei saya menerima surel (email) dari  Stuned dengan pesan sakti: "Thank you for your application for a StuNed Scholarship 2015. Herewith we would like to inform you that you have been selected to receive the scholarship." Alhamdulillah! Here I come, Maastricht!

Stuned memberikan batas waktu satu minggu untuk mengkorfirmasi jika saya mau menerima atau menolak beasiswa tersebut serta konfirmasi paspor--untuk PNS apakah akan menggunakan paspor dinas atau paspor biasa. Meski awalnya pemberitahuan dilakukan melalui surel, pada saat penandatanganan kontrak, surat resmi yang menerangkan bahwa saya menerima beasiswa Stuned juga diberikan.  

Proses selanjutnya adalah penandatanganan kontrak dan Acculturation Class yang dilakukan pada 13 Juni 2015. Penandatanganan kontrak dilakukan pada pagi hari di kantor Nuffic Neso Indonesia di Menara Jamsostek, sementara kelas akulturasi diadakan pukul 9 pagi sampai dengan 4 sore di Erasmus Taalcententrum Komplek Kedutaan Belanda Jl. H.R. Rasuna Said. Untuk penandatangan kontrak setiap penerima beasiswa diminta untuk membawa materai dua buah, tapi kalau mau berbaik hati dan mengantisipasi ada penerima beasiswa lain yang belum mendapat materai bisa juga mencontoh salah satu penerima beasiswa yang datang hari itu dengan membawa segepok materai. 


Kelas akulturasi terbagi dua sesi. Pada pagi hari, para penerima beasiswa kursus singkat dan saya mendapat pengenalan bahasa Belanda dasar. Saat sesi perkenalan, ternyata banyak juga penerima beasiswa ini yang pernah mengambil studi S2 di Belanda. Setelah rehat makan siang (gratis!) dan shalat, sesi kedua diisi dengan pengenalan budaya dan lingkungan Belanda. Saya mengajukan satu pertanyaan 'bodoh' di sesi ini: "apakah kartu transportasi OV-chipkaart bisa digunakan di seluruh Belanda?"

Saat itu, logika saya terpaku pada pengalaman di New York City dan kota lain seperti DC atau Philadelphia yang memiliki kartu transportasi berbeda meski sama-sama Amerika. Baru ngeh setelah berbulan-bulan kemudian menapakan kaki di Belanda dan ternyata negara itu kecil banget ya?! :)

Pertengahan Agustus 2015, penerima beasiswa kembali dikumpulkan untuk pertemuan ramah-tamah dengan pengurus Nuffic Neso Indonesia di Menara Jamsostek. Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker, memberikan welcoming remarks di awal acara. Ibu Indy Hardono, koordinator Beasiswa Nuffic Neso, menyampaikan beberapa pesan dan juga pengalaman di Belanda. Acara kemudian diakhiri dengan pemberitahuan mengenai proses aplikasi visa (untuk penerima beasiswa yang akan menggunakan paspor biasa, sementara paspor dinas tidak memerlukan visa) oleh pengurus beasiswa kursus singkat Nuffic Neso, Mbak Okta. Hingga penandatanganan kontrak di bulan Juni, proses aplikasi beasiswa kursus singkat sempat ditangani oleh Pak Joni, tetapi kemudian digantikan oleh Mbak Okta. Pengurus Nuffic Neso ini cukup responsif ketika saya menyempaikan pertanyaan baik melalui telepon maupun surel. 

Ohya, di acara ini, kami diberikan bekal berupa tas laptop, topi, alat tulis, peta Belanda, informasi pariwisata Belanda, dan novel Negeri van Oranje--yang saat itu sedang promo untuk adaptasinya ke layar lebar. Awalnya, para penerima beasiswa kursus singkat ini sempat menerima undangan untuk sesi ramah tamah dengan Duta Besar Belanda dan beberapa undangan pemain film Negeri van Oranje, tapi kemudian kami menerima ralat kalau acara tersebut hanya untuk penerima beasiswa master. Tampaknya penerima beasiswa kursus singkat tidak terlalu potensial untuk di-brainwashed. Just kidding!

Konfirmasi tiket dikirimkan dua minggu sebelum keberangkatan saya di bulan Oktober. Semua persiapan berjalan lancar sampai saya menginjakan kaki di Maastricht, alhamdulillah. Pengalaman kursus singkatnya insha Allah akan saya ceritakan lain waktu. Selamat berjuang buat teman-teman yang mendaftar beasiswa Stuned!