Sabtu, 01 Maret 2008

Venustraphobia: Takut Pada Luna Maya dan Jessica Alba


Kok bisa berkeringat dan pingsan ketika melihat Luna Maya? Bagaimana pula kalau dipaksa berdiri di depan barisan finalis Miss Universe? Inilah venustraphobia.

Oleh: Aries Setiadi

Venustraphobia adalah (jangan kaget!) fear of beautiful women. Rasa takut yang berlebihan terhadap perempuan cantik. Bagi sebagian perempuan, venustraphobia bisa jadi suatu anugerah. Perempuan tak perlu lagi mengejar kecantikan. Toh, ada pria yang justru takut dengan perempuan cantik. Tapi dari sudut pandang pria, venustraphobia adalah jelas adalah sebuah masalah besar. Bayangkan jika seorang pria hendak menonton film di bioskop dan di antara antrian terdapat sekelompok perempuan yang cantik dan jelita. Lalu si pria bukan merespon dengan siulan, tapi justru keringat dingin serta tubuh yang gemetar, kepala pusing, nafas megap-megap, dan berakhir dengan pingsan. Masalah besar, bukan?

Phobia
Phobia didefinisikan sebagai rasa takut yang tidak rasional atas suatu obyek, situasi, atau aktivitas yang spesifik. Yang perlu diberi penekanan adalah frasa ‘tidak rasional’. Pada kasus phobia, rasa takut dipicu oleh stimuli yang tidak benar-benar menakutkan atau mengancam keselamatan diri. Jika stimulan tersebut memang benar-benar berbahaya atau mengancam keselamatan diri, namanya bukan phobia lagi, melainkan rasa takut yang rasional dan wajar.

Pusing dengan maksudnya? Sederhananya seperti ilustrasi berikut ini. Alkisah, seorang pria pergi bersafari ke Afrika. Di tengah rimba, mobilnya mogok, lalu tiba-tiba datang segerombolan singan, mereka mengaum lapar dan mengejar si pria hingga lari tunggang langgang dengan ketakutan, Ini rasa takut yang rasional dan wajar. Namun jadi tidak wajar jika si pria menonton Discovery Channel, lalu singa Afrika muncul dalam tayangan, kemudian si pria merasa ketakutan, keringatan, sesak nafas, hingga hampir pingsan, inilah ketakutan yang tak rasional, phobia.

Para guru dan suhu dibidang psikologi masih berdebat mengenai pengaruh genetika, evolusi, hingga trauma terhadap asal-muasal phobia tertentu pada seseorang. Namun mereka semua sepakat bahwa phobia memiliki dampak yang besar terhadap kualitas hidup si penderita. Terlebih kuantitas penderita phobia juga relatif tidak sedikit. Secara statistik, diestimasi 1 diantara 23 orang menderita phobia yang terdiri dari berbagai jenis phobia. Dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders jilid IV, jenis phobia digolongkan dalam 3 kategori yaitu:

Pertama, agoraphobia. Rasa takut terhadap keramaian dengan obyek rasa takut tidak berfokus pada keramaiannya, melainkan pada berbagai kemungkinan yang bisa muncul tiba-tiba dalam keramaian. Penderita agoraphobia akan merasa ketakutan, tidak peduli sekedar antrian di bioskop atau hanya sebuah resepsi pernikahan. Setiap terserang rasa takut, penderita tidak bisa ditenangkan dengan pendekatan rasional.

Kedua, social phobia. Phobia terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Penderita social phobia merasakan ketakutan yang berlebihan sehingga mereka menghindari situasi sosial atau menghadapinya dengan penuh tekanan. Keadaan-keadaan yang sering memicu terjadi ketakutan pada penderita social phobia antara lain: berbicara atau tampil di depan umum, makan di depan orang lain, bahkan menggunakan kamar mandi umum. Penderita merasa penampilan atau tindakan mereka tidak tepat dan berujung pada rasa takut yang berlebihan.

Ketiga, specific phobia. Specific phobia merupakan penyakit kecemasan yang paling sering terjadi. Penderita spesific phobia mengalami ketakutan yang luar biasa terhadap obyek, situasi, atau aktivitas tertentu. Phobia ini banyak jenisnya. Mulai dari phobia yang wajar seperti phobia pada laba-laba, ular, atau ketinggian; phobia yang agak aneh seperti pada kucing atau naik mobil; hingga phobia pada Luna Maya dan Jessica Alba.

Venustraphobia
Venustraphobia (disebut juga caligynephobia), merupakan rasa takut yang berlebihan terhadap perempuan cantik. Sama halnya dengan phobia jenis lain, venustraphobia disebabkan oleh stimulan yang tidak wajar dan tidak membahayakan jiwa. Menurut sejumlah penelitian yang pernah dilakukan, venustraphobia disebabkan oleh kejadian atau pengalaman buruk yang berkaitan dengan perempuan cantik yang menyebabkan trauma psikologis pada si penderita. Trauma ini bisa terjadi secara langsung dan nyata pada si penderita atau sekedar stimulan yang tidak dirasakan langsung, seperti menonton adegan dalam film atau bahkan mendengar pengalaman traumatis dari orang lain.

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikolog, mengatakan sebenarnya venustraphobia atau phobia terhadap perempuan cantik tidak pernah secara eksklusif dikategorikan sebagai kelainan tersendiri. Maksimum gejala tersebut hanya merupakan bagian dari perasaan tidak percaya diri atau rendah diri (inferiority feeling), perasaan takut ditolak, takut tidak diterima, atau takut gagal dalam membina hubungan dengan perempuan cantik tersebut.

Permasalahan terdapat pada sisi psikis si pria. “Jadi sebenarnya pria itu takut pada dirinya sendiri, karena sepanjang saya tahu tidak ada perempuan cantik yang menakutkan,” tambah Sarlito.

Namun bukan berarti phobia ini tidak eksis. Sebuah penelitian mengklaim bahwa diestimasi 0,47 persen pria di Inggris dan 0,61 persen pria di Amerika telah terserang gejala venustraphobia. Masalahnya muncul dalam hubungan percintaan hingga dengan rekan kerja dan bisnis. Venustraphobia berefek samping pada menurunnya aktivitas sosial si penderita seiring dengan terjadinya penghindaran komunikasi dengan setiap perempuan cantik oleh si penderita tersebut.

Penelitian yang lain menyatakan venustraphobia lebih banyak diderita oleh pria dari kalangan menengah ke atas. Penyebabnya sepaham dengan pernyataan Sarlito, sikap inferiority feeling. Semangat feminisme dalam beberapa dekade terakhir telah melahirkan banyak perempuan yang menjadi pemimpin di perusahaan. Terutama dalam bidang kerja seperti public relation dan marketing, di mana perempuan cantik acap kali mendominasi puncak jabatan. Para pria yang kadung mengecap dirinya jagoan tapi kemudian kalah tanding, akhirnya mengalami perasaan rendah diri dan berlanjut dengan sikap menghindar dari perempuan cantik. Hingga pada suatu titik, perasaan-perasaan si penderita akan terakumulasi menjadi phobia.

Penderita venustraphobia bisa saja tinggal berdiam diri di rumah, tidak nonton televisi, tidak baca majalah, cukup baca koran yang jarang ada gambarnya, dan suruh pembantu untuk belanja segala rupa. Untungnya belum ada perempuan secantik Mariana Renata yang jadi pembantu rumah tangga.

Banyak Jalan Menuju Pemulihan
Para pakar psikologi sepakat jika venustraphobia menurunkan kualitas hidup penderitanya dan harus dipulihkan. Berbagai metode pemulihan kemudian diciptakan. Mulai dari hipnoterapi, neuro-linguistic programming, hingga energy psychology. Jalannya berbeda-beda, tetapi tujuan akhirnya sama: menghilangkan rasa takut.

Hipnoterapi dilakukan untuk memprogram ulang alam bawah sadar penderita dengan bantuan terapis atau psikolog sebagai mediator. Ketika rasa takut tersebut telah diprogram ulang, gejala venustraphobia akan ditekan hingga taraf minimum. Terapi ini relatif aman dan bereaksi secara cepat. Namun seringkali ada perasaan tidak nyaman pada si penderita ketika ada orang lain (dalam hal ini terapis atau psikolog) mengambil kontrol atas dirinya.

Neuro-linguistic programming secara sederhana adalah suatu proses membentuk realitas diri si penderita. Metode pemulihan ini menggunakan kekuatan imajinasi untuk memprogram ulang rasa takut pada si penderita. Dalam sudut pandang neuro-linguistic programming, phobia adalah hasil dari proses yang tidak berjalan dengan semestinya. Neuro-linguistic programming kemudian akan membenahi proses yang ‘menyimpang’ hingga venustraphobia akan ditekan atau bahkan dihilangkan.

Energy psychology merupakan suatu terapi pemulihan yang menggabungkan berbagai macam bentuk pemulihan terhadap phobia. Adapula yang menyebutnya sebagai ‘akupuntur’ emosi. Metode pemulihan ini dinilai bereaksi secara cepat dan bekerja secara aman.

Ada pula metode pemulihan lain, seperti menggunakan obat anti-depresi, terapi bicara, atau cognitive behavior therapy. Dalam beberapa kasus, penderita dapat memilih salah satu metode pemulihan, mencoba, dan sembuh. Namun pada kasus lain, penderita perlu mencoba beberapa metode hingga menemukan ‘jodoh’ yang tepat untuk membantu pemulihan. Diagnosa dini terhadap venustraphobia akan lebih memudahkan pemulihan.

Apakah Anda pernah terkena sindroma rasa takut ketika melihat Luna Maya di layar kaca? Apakah Anda lemas ketika melihat Jessica Alba tersenyum. Jika iya, segeralah kontak psikolog (yang tidak cantik). Tapi jika tidak, puji syukur pada Yang Maha Kuasa. Saya juga bersyukur tidak terkena venustraphobia. Meski mungkin perempuan cantik yang takut pada saya, he he he….

(*)

Diterbitkan dalam SOAP Magazine (R.I.P) February 2008 Issue

Senin, 31 Desember 2007

Antara Olimpiade Sains dan Harry Potter

Sebelum membaca, ucapkan mantra: Lumos*.

Ada yang menarik perhatian ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pidato sambutan pembukaan Internasional Junior Science Olympiad (IJSO) II di hadapan 329 peserta di gedung Senisono Kompleks Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta, 5 Desember 2005 lalu. Dalam pidato pembukaan tersebut, Presiden SBY menyebutkan, “IJSO kali ini mengingatkan saya pada film Harry Potter yang penuh dengan kompetisi. Hanya sayangnya, film itu adalah fantasi, sementara dalam ajang IJSO kali ini adalah riil. Tapi untuk kompetisinya, tirulah Harry Potter.”

Menurut Presiden SBY, Harry Potter adalah sosok anak muda yang jenius dan berani. Oleh karena itu, Presiden SBY meminta kepada peserta IJSO II yang semuanya masih tergolong anak muda agar meniru sosok tersebut. Alasannya, sosok anak muda dalam novel dan film Harry Potter layak untuk dicontoh. Yang perlu dicontoh tentunya bukan keahliannya dalam menyihir, tetapi dalam kompetisi yang sehat dan pengembangan imajinasi yang luar biasa.

Mendengar apa yang dikatakan Presiden SBY, memang masuk akal jika sains sesungguhnya juga merupakan hal yang menghibur. Sains itu menyenangkan. Sama seperti menikmati novel ataupun film yang menampilkan tokoh imajinatif karya J.K. Rowling tersebut. Sains adalah kegiatan mencetuskan ide, mengeksplorasi, mengobservasi, dan memahami apa yang telah kita temukan dalam eksplorasi dan observasi tersebut.

Memahami sains (termasuk didalamnya matematika, fisika, kimia, dan biologi) memang bukan perkara yang mudah. Perlu kesabaran, ketekunan, dan kerja keras dalam mempelajarinya. Belum lagi materi yang tergolong dalam sains biasanya menjadi momok yang mengerikan bagi mayoritas anak muda. Rendra Prasetyo, peraih medali perak dalam International Chemisty Olympiad 2005 mengatakan rumus ia dalam mempelajari kimia, “dipelajarin aja. Diulang-ulang....nanti kan jadi bisa.” [lihat rubrik sosokdalam Sagasitas Scientific Journal Edisi 3 Tahun 2005]. Buktinya, Rendra mampu membuktikan dirinya mamapu berprestasi di tingkat dunia.

Namun bukan berarti pula bahwa memahami sains hanya bisa dilakukan di laboratorium dan hanya ditujukan untuk perlombaan semata. Esensi sains itu sendiri adalah memahami segala sesuatu yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Bukankah tinta tulisan bisa menempel pada kertas ini juga sebuah bentuk sains? Atau pernah disadari bahwa film Harry Potter yang diputar dengan pita seluloid memanfaatkan rumus fisika dalam perputarannya? Maka sains sesungguhnya tidak dipisahkan dengan kehidupan kita. Dan sains sendiri bias menjadi sumber hiburan kita. Barangkali ketakutan kita akan sains lebih dikarenakan sains selama ini terkesan berorientasi laboratorium. Padahal tidak selalu. Sebagai contoh, di Inggris, pemutaran film Harry Potter bahkan dilakukan di The Science Museum of London. Ini menunjukan bahwa sains juga dapat bersatu padu dengan hiburan.

Sains memang bukan ilmu sihir yang sekali ucap mantra bisa diingat selamanya. Sains adalah sebuah rangkaian proses belajar yang harus dilakukan dengan ketekunan, kesabaran, kerja keras, dan tidak boleh dilupakan: menghibur dan menyenangkan. Jika kita tekun, tidak mustahil jika kita dapat berprestasi dibidang sains. Hasil yang diperoleh tentu akan membanggakan. Jadi, siap untuk ikut olimpiade sains? Tapi hati-hati jangan sampai, setelah belajar, mengucapkan mantra: Obliviate**.

Oleh Aries Setiadi

* Mantra untuk menyalakan lampu dalam cerita Harry Potter.
** Mantra untuk menghapus ingatan dalam cerita Harry Potter.

Tulisan ini dimuat dalam Sagasitas Scientific Journal.

Rabu, 01 Agustus 2007

Communicating Corporate Social Responsibility: To comunicate or to advertise?

Corporations are realizing that although they were accountable only to shareholders or owners in the past, they are becoming increasingly accountable to a broader range of stakeholders now.

A paradigm shift is on the move, from accountability to shareholders to accountability to stakeholders. In the past, corporations have considered their social responsibility to be adequate if they made a profit, provided jobs, and perhaps had a donations policy. But, Leonard J. Brooks on his book entitled Business & Professional Ethics noted, the world has changed, and now stakeholders expect more. Labor, society, and environment have become an integral part of a corporation. It means corporation also have to put responsibility on them and all the things sum up into a concept known Corporate Social Responsibility (CSR).

For several years, specific companies and industries have disclosed their performance on dimensions that they know their stakeholders are interested in. For example, there are many corporate repots on environmental performance, and on health and safety performance. Many corporations are including these reports on their websites as well as issuing hard copies, or further advertise them. Brooks noted that the most noteworthy comprehensive CSR reports that have been made public are those from The Body Shop, The Co-operative Bank (United Kingdom), and VanCity Credit Union. And the debates begin.

Advertising CSR is viewed from two different sides. First, the one sees advertising is a way to report what a corporation has done to the public—as a part of responsibility and accountability to a public. It is also a part of marketing tools. The society (read: customer and/or consumer) are being aware and concern on CSR. They will prefer to use or consume products that are produced by socially responsible corporations. The other side sees that advertising CSR has been twisted. They agreed that CSR have to be reported to the public, but debated on how the corporation reports it. Budi Wahyuni, a Non Government Organization activist, in a Corporate Social Responsibility seminar*, said most corporations advertise its CSR programs only those support marketing campaign of the product. She noted a corporate produces hand and body wash soap that advertises the corporate support to build sanitary facility in a rural school. The value of the support is much less than the cost of the company to advertise it on mass media. She questioned whether that was a CSR program or a pure advertisement.

The argument above is logical. It also should be questioned why the corporation only put CSR program into several products those are produced by them, and criticized that, on the contrary, another several products use a tend-into-discrimination campaign (directly demonstrate that a white lady more beautiful than the others, shown by a man chose the whitest lady among three). The Sustainability Reporting Guidelines [Delhi] G3 version, Global Reporting Initiative** on January 2006 noted that Marketing Communication is also has to be socially responsible. The guidelines include that aspect into a chapter noted as Product Responsibility (PR).

It is true that CSR is more than giving a donation. Corporate Social Responsibility is running in every single part of the corporation, from the production, labor practices, society, environment, to public communication.


-Aries Setiadi-


*Seminar on Corporate Social Responsibility was held in March 25, 2006 at Auditorium Magister Managemen, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta organized by Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKAMMA), Faculty of Economics, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

** Global Reporting Initiative can be viewed at http://www.grig3.org.

Jumat, 01 September 2006

Panggilan Nurani para Pemuda Yogya

Ketika sekali lagi bencana terjadi dan gempa berkekuatan 5,9 skala Richter menggoncang Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah pada Sabtu, 27 Mei 2006 lalu, salah satu respon kota pelajar adalah meliburkan semua pelajar dan mahasiswa, meski bangunan sekolah dan perguruan tinggi mereka tidak ikut rontok digoyang gempa.

Namun, libur tidak lantas menjadikan para siswa dan mahasiswa berongkang-ongkang kaki di rumah. Nurani memangggil mereka memberikan kontribusi untuk membantu sesama.


Evakuasi Korban Sang Sahabat Alam

Budi Utomo, 22, masih tertidur lelap di kamar kosnya saat gempa datang pada pukul 05.53 WIB. Goncangan hebat tak ayal membuat ia terbangun dan berlari keluar. Setelah gempa reda, ia dan rekan kosnya-sebagian besar tergabung dalam kelompok Pecinta Alam Mahasiswa Ekonomi (PALMAE) Universitas Gadjah Mada-segera pergi ke kampus. Mereka langsung mengontak SAR (Search and Rescue) daerah untuk mencari tahu situasi terakhir pascagempa. Apalagi tersiar kabar juga bahwa Malioboro mengalami kerusakan yang cukup parah.

Sambil menunggu informasi, Budi dan rekan-rekan berusaha menyiapkan peralatan yang mungkin akan berguna untuk membntu evakuasi. Mereka juga menyiapkan air mineral sebagai cadangan rehidrasi bagi para korban. Ketika kabar dari SAR daerah diterima, Budi dan sembilan rekannya pergi mengendarai 5 motor untuk memberi bantuan evakuasi.

Mereka memang telah siaga untuk menghadapi kemungkinan bencana. Kondisi Merapi yang selama dua bulan semakin mengkhawatirkan membuat mereka siap untuk sewaktu-waktu dimintai bantuan. “Sebagai pecinta alam memang sudah sepatutnya menjadi sahabat bagi semua,” ujar Budi.

Selama berhari-hari, Budi melakukan evakuasi di Imogiri, Bantul, salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah. Menjadi relawan yang melihat langsung keadaan Yogya dan sekitarnya yang hancur, bagaikan sebuah paket kebahagiaan dan kepedihan bagi Budi. Ia senang bisa membantu, namun juga sedih karena banyak korban yang dibantu tidak hanya kehilangan harta benda tapi juga anggota keluarga mereka. Berada di antara para korban gempa, Budi yang berasal dari Jambi pun merasa menemukan keluarga ketiga-setelah keluarganya sendiri dan teman-temannya sesama pecinta alam.


Beramal Sambil Belajar

Bagi Heri Santoso, 21, Sabtu merupakan hari yang dinanti-nanti. Karena pada hari itu, mahasiswa Akademi Keperawatan Bethesda ini mendapat jadwal kuliah praktik di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Menurut Heri, kuliah praktek lebih menyenangkan karena ia lebih mudah mempelajari masalah medis. Ia sedang bersiap menuju kampusnya ketika gempa terjadi. Dan Sabtu, 27 Mei 2006, itu pun menjadi hari yang berat baginya.

RS Bethesda memang tidak mengalami kerusakan, namun korban gempa terus berdatangan hingga melebihi kapasitas rumah sakit yang memiliki fasilitas cukup lengkap ini. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang diberi pertolongan pertama di area parkiran. Heri dan rekan-rekan kuliahnya pun akhirnya turun langsung untuk memberi bantuan medis.

Sebagai mahasiswa tingkat lanjut, ia sudah diberi kepercayaan untuk melakukan penjahitan bagi korban. Dengan masker, sarung tangan, dan sebuah meja beroda berisi obat-obatan, ia menjahit luka-luka korban. Baginya melihat korban dengan luka parah menimbulkan kengiluan sendiri. Namun ia segera menambahkan, “tapi sudah biasa.”.

Selama menjadi relawan ia hanya berganti giliran setelah bertugas selama 12 jam. Ia juga mengaku siap jika ditugaskan untuk membantu korban langsung di daerah bencana, seperti Bantul atau Klaten. “Beramal sambil belajar,” ujarnya memberi alasan sembari mengantarkan korban ke dalam rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Sementara itu, mobil-mobil berisi korban terus berdatangan.


Trauma Healing ala Maulana

Bisa jadi, Akhmad Wukiran Maulana, 23, adalah orang pertama yang menjadi relawan di RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Sehari-hari, pemuda ini lebih banyak dilakukan di mesjid kampus Al Mardliyah yang berlokasi kurang dari 50 meter dengan rumah sakit tersebut. Beberapa saat setelah terjadi gempa, ia melihat kekacauan yang dialami RS Dr. Sardjito. Meski bangunan rumah sakit tetap utuh, pasien-pasien rawat inap mengalami kepanikan dan berhamburan keluar. Tak berapa lama kemudian, korban-korban gempa dengan luka parah juga mulai berdatangan.

Sayangnya, jumlah korban baru yang terus berdatangan tak seimbang dengan kapasitas rumah sakit sehingga mereka terpaksa ditangani secara bergantian oleh petugas medik. Sejak itu, Maulana menjadi relawan. Tugasnya adalah memindahkan korban dari satu ruang ke ruang lain. Selama dua hari Maulana dan beberapa rekannya melakukan itu.

Namun sejak hari ketiga, dengan keberadaan Posko Relawan SR Dr. Sardjito, para relawan pun diposisikan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Maulana yang memiliki kapabilitas di bidang agama lebih memilih memberikan bantuan berupa trauma healing. “Para korban memikirkan keluarganya yang hilang, rumahnya yang hancur, dan akan kemana mereka pulang setelah diobati padahal fisik mereka juga masih sakit,” katanya.

Maka selain membantu memindahkan korban, Maulana juga mulai memberikan bantuan berupa motivasi bagi korban. “Saya hanya mengingatkan mereka untuk bersabar. Berserah sama Tuhan,” tuturnya. Dengan pakaian batik, blangkon, masker, dan tanda putih dilengan yang menunjukan bahwa dirinya relawan, Maulana hadir di tengah para korban dan siap diminta bantuan.


Bolos yang Didukung Pak Wakil Kepala Sekolah

Hari-hari pertama gempa, Ferianto, 16, disibukan dengan mencari tahu keadaan keluarga dan teman-teman sekolahnya di SMA N 9 Yogyakarta. Hasilnya, semua keluarga selamat, namun ada beberapa rumah guru dan teman sekolahnya yang rubuh. Ia tidak dapat banyak membantu saat itu. Menjadi relawan pun tampak tidak memungkinkan.

Selain orang tuanya khawatir jika Ferianto harus pergi ke daerah pusat bencana, ia sendiri sedang sibuk menyiapkan ujian akhir semester. Senin, hari kedua pasca gempa, Feri berkumpul di sekolah dengan teman-temannya yang selamat. Mereka merasa berkewajiban untuk membantu guru dan teman sekolahnya yang menjadi korban. Setelah berdiskusi, mereka memutuskan untuk mengedarkan kotak amal di jalanan. Ide ini mereka ajukan kepada wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dan disetujui. “Baru kali ini kita didukung untuk bolos,” ujar mereka.

Maka, Feri dan teman-teman sekolahnya mengedarkan kotak amal dari kardus di simpang empat Jenderal Soedirman. Area dekat dengan sekolah mereka ini merupakan jalur terpadat yang dilalui kendaraan di kota Yogyakarta. Lembar demi lembar uang ribuan disodorkan dari jendela mobil yang melewati tempat itu. Tak jarang mereka bereduh sebentar dari terik matahari di pepohonan.

Rencananya, hasil pengumpulan uang akan diserahkan pada teman dan guru mereka sendiri. Feri mengaku merasa prihatin dengan jumlah korban yang mencapai ribuan. Ia berkata, “kami hanya bisa melakukan ini. Mudah-mudahan bermanfaat.”

Barangkali bantuan yang mereka lakukan tidak terlalu besar. Namun, disaat yang genting, ketika banyak orang-orang lari menyelamatkan diri sendiri, pengorbanan mereka patut diberi pujian.

Oleh Aries Setiadi
Tulisan dimuat dalam Majalah Reader's Digest Indonesia edisi Nomor 08, Agustus 2006.